Let Go - Oneshoot
![]() |
| Author: Amalia Marina; Picture: Gerimisore "You are my universe and I'm just a storm for you" |
Angin berhembus, menghapus jalanan,
membiarkan rintik gerimis menggelantung di atas atap halte, gemericik yang
tadinya perlahan berubah jadi gaungan dari hujan lebat yang menderu, Jun
merapatkan jaketnya, berusaha mengusir dingin yang melilit dan sesak di dada
karena penantian, butuh waktu sepuluh menit -dan rasanya sepuluh menit itu
penantian yang begitu lama, seolah sepuluh menit itu separuh dari masa hidupnya-
sosok itu kemudian muncul dengan jaket biru pastel seragam P.E-nya, berlari
kecil melintasi jalan, mendekati Jun yang cuma bisa melambaikan tangan dengan
kaku. Sudah lama dia tidak melihat gadis itu, sudah lama... Ya karena gadis itu
sellau
menghindarinya, Hazuki Rin, dan dia seperti biasanya dengan pesonanya yang luar
biasa, entahlah... Sulit menjelaskan bagian mana yang kurang dari dirinya, dan
begitulah... Sulit bagi Jun pula menjelaskan hubungan diantara mereka berdua.
"Senpai, gomenne sudah menunggu
lama..." Rin membungkuk kaku, wajah itu basah... Dan tangan Jun perlahan
mengusap bulir air yang mengalir dari pelipisnya,
'kulitnya halus' gumanan itu mencelos dalam
hati Jun, dan bersamaan dengan aksinya Hujan seolah tak bersuara, terperangkap dalam
keadaan hening dan kaku, Rin membeku dalam adegan tiga detik itu, dan Jun jadi
salah tingkah sendiri karena sikapnya.
"Gak kok, belum lama...kenapa
terburu-buru? Kamu jadi basah begini." tukas Jun yang mencoba untuk
menetralkan suasana.
"Ya aku kan gak enak sama senpai..."
"Daijobu, menunggu memang sudah
keahlianku..." Jun menjulurkan payungnya, dan Rin lagi-lagi membeku,
terperangkap dalam kalimat Jun yang seolah menginti padanya.
"Ayo pulang..." Jun berjalan perlahan,
di buntuti Rin yang ada di belakangnya.
"Senpai bawa dua payung?"
"Hmmm" hanya bunyi itu yang
terdengar, bersahutan bersama bunyi hujan yang bergetar menimpa payung mereka.
"Kenapa?" Tanya Rin yang masih
membuntuti jejak Jun di depannya.
Jun berhenti, berbalik dan menatap Rin
sejenak, sampai laju kakinya berlanjut, Rin bagai disihir oleh hujan dan
tatapan Jun
'Kenapa?
Kenapa harus tatapan itu?' Rin mengeratkan pegangan payungnya, hatinya
bagai ada yang mengiris.
"Pertama, sudah kebiasaanmu tidak
pernah membawa payung, padahal sekarang sudah musim hujan, Kedua karena aku
yang mengajakmu pulang bersama jadi mau tak mau aku harus ada antisipasi kalau
perkiraanku benar, dan ketiga...." berhenti sejenak, Jun menghembuskan
nafas berat.
"Bukankah akan sangat tidak
menyenangkan satu payung denganku?" Jun memutus kalimatnya dengan
pertanyaan, kebingungan... Rin hanya bisa membisu.
"Senpai... Kau tahu? Ketika senpai
mengajakku pulang bersama, rasanya seolah kita benar-benar masih memiliki
harapan... Dan..." Rin kini buka suara, tidak mau kalah menyuarakan isi
hatinya.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu pulang
bersama?" Jun memutus kalimat Rin dengan pertanyaan lagi, tanpa berbalik,
Rin hanya bisa memandang punggung Jun yang semakin mendingin.
"Karena aku ingin tahu, apa masih ada
harapan untuk kita? Apa kau masih memberiku harapan? Karena bagaimanapun... Aku
tidak pernah bisa berhenti... Tidak, mungkin aku tidak mau berhenti berharap."
Senyum terpaksa itu terukir di bibir Jun, lelaki itu jadi melankolis, padahal
orang-orang sering bilang kalau mantan ketua osis itu orangnya kalem, entahlah...
Urusan hati jadi membuatnya dramatis begini.
"Kalau begitu jangan..." ucap
Rin, maka berbalik lah Jun dan menatap dalam-dalam manik cokelat Rin.
"Apa kamu tidak paham? Aku benci
ketika kamu memberiku harapan tapi seolah tiada harapan, aku benci pada aku
yang bahkan melupakanmu saja susah... Kenapa? Kenapa kamu tidak menghilang
saja, dan kenapa aku tidak melupakanmu saja supaya urusan ini tidak serumit
benang kusut." Jun masih menatap Rin yang membisu.
"Bagaimana bisa aku menggenggam
tanganmu kalau kamu bahkan tidak di sampingku? Bagaimana bisa kamu memberikan
harapan padaku kalau kamu sendiri bahkan ketakutan pada perasaanmu" Jun berjalan
meninggalkan Rin yang tidak melangkah dari tempatnya, kisah mereka memang tidak
rumit, hanya kisah cinta biasa dimana Rin menyukai Jun dan Jun menyukai Rin, tapi
tidak bisa, karena ada Harumi di antara mereka, Harumi teman Rin, dia juga
menyukai Jun... Jauh sebelum Jun bertemu dengan Rin, dan Rin mau tak mau harus
memendam perasaanya, tidak enak, dan juga merasa bersalah pada perasaannya dan
pada Jun yang slalu menunggunya.
Tapi bagaimanapun perasaan tidak pernah
bisa dihapuskan begitu saja, hati tidak pernah berbohong, Rin masih mematung menatap
punggung Jun yang menjauh, sampai sosok itu benar-benar hilang di persimpangan
jalan, Rin tersendu, air matanya mengalir tanpa di minta
"Gomen, senpai...."
-Menyedihkan jika aku memutus
persahabatan karena perasaan,
Tapi menyedihkan jika aku bertahan dan
diam, karena aku egois menginginkannya untukku seorang-
Review now


Komentar
Posting Komentar
Read and Review please...