Hujan - Drop 1
![]() |
| Author: Amalia Marina;Picture: Xiao |
“Baiklah, kalau begitu buat Pr-nya halaman 8 sampai
13 di kerjakan di rumah ya, besok di kumpulkan di meja Bapak sebelum bel masuk
harus sudah terkumpul semua, kalau ada satu yang kurang bapak tambah Pr -nya
sampai halaman 25 dan di kumpulkan di hari berikutnya.” Pak Maman keluar kelas
dengan senyuman sinisnya, guru Matematika itu memang paling jago membuat
kontroversi, banyak siswa di buat kewalahan olehnya, tugas seabreg adalah
keahliannya, sementara itu anak-anak
kelas bersorak kecewa dan pasrah di lain
sisi, seisi kelas jadi riuh karena Pak Maman lagi-lagi ‘buat onar’.
“Kejam bangettt...”
“Deh, gemes banget... pengen gue bejek aja tuh papan
tulis.” Riko yang paling emosi menggebrak meja.
“Gue ngerjainnya ngasal aja ah, orat-oret gak
jelas.” Lanjut Riko dengan seringainya, dia memang yang paling anti sama
pelajaran Pak Maman, bukan tanpa sebab juga sih, karena Pak Maman paling suka
membuat Riko malu dengan menyuruhnya mengerjakan soal di papan tulis atau
bahkan menjelaskan apa yang barusan Pak Maman jelaskan, hari ini saja hampir
hampir tiga kali Riko di panggil ke depan untuk mengerjakan soal dan tentu saja
tiga-tiganya salah, alias ngaco, membuat seisi kelas menyorakinya dan entah berimajinasi
atau bagaimana Riko selalu mendapati wajah tersenyum Pak Maman ketika ia di
soraki seperti itu, wajah guru itu persis seperti lawan Angry Bird ketika gagal
terkena bandring, tahu lah lawannya yang mana, gak usah di sebutin juga,
gitu-gitu Pak Maman guru.
“Afgan anjeeeer.” Tukas anak-anak kelas 12 IPA 4.
Tapi lagi-lagi mereka gak kuasa, udah hampir kelar nih sekolah, ya udahlah gak
apa-apa... sekalian berbakti sama guru sekali-kali. Pikir sebagian begitu.
“Eh Nit, lu besok dateng pagi yah, biar gue bisa
nyalin sedikit-sedikit...” Juli berkata cempreng dari ujung sana pada Anitha,
Anitha hanya tersenyum tak mengiyakan, tadinya gadis itu ingin mengusulkan
untuk mengerjakan bersama-sama hari ini, namun anak-anak sudah keburu pulang...
kalau di paksakan, dia pasti yang jadi korban, mengerjakan semua soalnya sementara
yang lain tinggal nyalin saja, kebiasaannya sih begitu.
Langit hanya terdiam, tidak fokus dengan sekitar,
tangannya beringsut memasukan bukunya ke tas, sejenak ia menatap keluar seperti
memikirkan sesuatu tapi kesejenakan itu nampaknya bakal menjadi selamanya kalau
saja sebuah tangan tidak dengan kasar menyadarkan lamunan siang bolongnya itu.
“OI!” Langit terperanjat, wajahnya menunjukan
ekpresi kesal dan bersyukur, kesal karena kalau ia jantungan dia pasti sudah
mati di tempat dan bersyukur karena yang di hadapannya kini adalah manusia
alias partnert in crime nya, bukan
jin iprit atau jejelmaan lainnya.
“Lu tuh yah, bacotnya gede amet, kaget tau...”
Gerutu Langit sambil mengelus-elus dadanya.
“Yaelah lebay lu, sini gua elusin dadanya...” Raka mengulurkan
tangannya namun Langit menepis dengan kasar, membuat Raka terkikik geli melihat
tingkah temannya itu. Hampir semua siswa sudah keluar kelas dan tinggal
beberapa yang masih tersisa di dalam, mengobrol santai atau sekedar menunggu
sekolah sepi, bergosip ria membicarakan orang-orang populer di sekolah,
membahas tentang kekejaman guru dan betapa membosankannya kehidupan akhir sekolah
ini. Buang-buang waktu, padahal mereka baru saja di beri tugas seabreg oleh
guru favorit mereka, namun nampaknya gak ada kepedulian
sedikit pun.
“Anjeeer jangan cari kesempatan dalam kesempitan deh
lu.” Langit ikutan tertawa, mereka memang sama-sama gila, pikir Anitha yang
masih ada di kelas mengerjakan Pr mungkin, entahlah... gadis itu terlihat
sedang sibuk menulis tapi tentu saja dia mendengar percakapan Langit-Raka
dengan jelas, Anitha duduk tepat di depan Langit, gadis yang menjadi juara umum
pertama di sekolah, catat di sekolah bukan di kelas, itu artinya dia siswa paling pintar yang artinya dia lebih
pintar dari Langit dan Raka yang artinya dia itu gak gila seperti mereka
berdua. Jadi, Anitha pasti gak tertarik dengan obrolan ngaco Langit-Raka.
“Lagian elu nih ya, kapan warasnya sih Lang? Kalo
enggak nonton bokep yah kerjaan lu pasti bengong liatin langit, demi kucing gue
yang masih perawan lu liatin sampe kapan juga gak bakal turun bidadari dari
khayangan keles.” Tukas Raka dengan wajah mengece. Langit menjitak kepala Raka
dengan keras sambil mengapit leher Raka dengan tangan kanannya.
“Bau ketek oi!!” Raka memekik membuat Langit melepas
apitannya.
“Sialan, elu kan bandarnya bokep, kagak usah lempar
kentut sembunyi pantat deh, lagian juga hak gue dong mau ngapain aja, idup-idup
gue...”
“Taek lu... biasanya juga elu suka request ke gue,
nih yah... idup emang idup elu, tapi tengsin dong masa gue yang tampan ini
punya temen suka bengong, mending bengong doang, ini pake mangap segala,
titisan kuda nil lu?”
BRUKKK
Anitha
membereskan bukunya dengan sedikit menggebrak meja.
“Eh Nit, sorry
ya... dia emang berisik” Kata Langit dengan sedikit nyengir ala kuda, Raka
menjitak kepala Langit dengan keras.
“Kayak elu kagak aja...” protes Raka dengan wajah
tidak terima, Anitha sendiri cuma nyengir-nyengir kecil. Membuat keduanya
ikutan nyengir entah karena apa, kelas hening sebentar, sebelum akhirnya Anitha
buka suara.
“Gak apa-apa kali, gue tadi kagak sengaja ngegebrak
meja... udah lanjutin aja ngerempongnya.” Anitha yang tadinya tersenyum kecil
sekarang merubah ekspresinya dengan wajah seperti ‘kalian tuh bisa enggak enyah dari sini’
Dengan segera Anitha melenggang meninggalkan
keduanya yang masih terpaku dengan kepergian gadis berkuncir kuda itu, Ria dan
Santhi mengikuti Anitha keluar sambil mengobrol. Bersama Adit dan Kiki yang
ikut melenggang keluar, sepertinya akan mengikuti ekskul basket.Di kelas kini
tersisa mereka berdua saja.
“Cakep sih, tapi kagak nahan judesnya hahaha.” Raka
tertawa garing.
“Cieee naksir nih ceritanya?” Langit terkikik
sementara Raka diam tak bergeming, wajahnya memerah, Langit yang membaca jelas
perubahan mimik di wajah Raka ikutan terdiam dengan tidak percaya. Ini
imajinasi atau kenyataan? Seorang Raka? Yang kerjaannya mantengin komputer maen game
ampe belo, punya ketertarikan sama cewe di dunia nyata? Dan lagi cewe itu
adalah ANITHA NIAR PRAMESTI sedangkan
dia? CARAKA itu saja namanya, sangat simple,
sedang ANITHA? Namanya saja sudah luar biasa panjang, otaknya pintar, ortunya
punya rumah, rumahnya gak biasa pula, apartment
di kawasan elit, gedung yang warnanya paling biru yang dinamain Pramesti Tower itu bukan sekamar dua
kamar milik keluarga Anitha, tapi gedungnya adalah MILIK MEREKA! Raka sendiri,
sebenernya gak terlalu low class
banget sih, hahaha langit tertawa dalam hati, Raka itu bapaknya dokter bedah,
ibunya punya bisnis batik, cuma Raka aja yang rendah hati, kesekolah muka
kusut, baju dekil,makan pengen di traktir, dan kadang suka lupa bayar SPP,
seringkali di panggil pihak administrasi, ujung-ujungnya Langit suka minjemin
Raka duit yang pasti di bayar tiap tanggal 7. Tapi, bukan berarti Raka gak di
urus, ya emang bocah itu kelakuannya aja yang rada aneh, seperti yang sudah di
jelaskan, Raka itu sedikit wajarnya, banyak gilanya dan sedang lah otaknya.
Langit tersenyum.
“Seriusan?” Tanya Langit dengan masih tidak percaya,
Raka lantas melenggang keluar kelas tanpa menjawab pertanyaan Langit.
“OI! Cie malu nih ceritanya...” Langit terkikik geli
mengamati tingkah temannya itu yang jadi salah tingkah.
“Berisik lu...” Raka tersenyum, sementara Langit
berlari pelan mendahului Raka yang semula meninggalkannya.
“Gue duluan ah, ada urusan!!” Pekiknya lalu melesat
kencang.
“Mau kemana lu? Gak ngerjain tugas MTK?!” Tanya Raka
dengan penasaran dan sedikit berteriak, padahal sudah tertera larangan
berteriak di koridor sekolah, tapi ya namanya anak muda jaman sekarang memang
bebal dengan peraturan.
“RAHASIA!! GAK! YANG ADA ELO NYONTEK” jawab Langit
dengan sekidit bumbu misteri agar Raka semakin penasaran,padahal ya Langit cuma
mau pulang saja, emang dasar kunyuk bisa-bisanya aja bikin orang penasaran.
Ketika Langit melewati gang-gang itu hari sudah
menjelang sore, awan mendung menyelimuti langit sementara ia sendiri masih asik
mengayuh sepedanya sambil sesekali menyapa penjaga toko yang ia kenal, sampai ia
berhenti di sebuah toko yang menjual kue kacang merah, Langit bergegas memesan
sebelum langit di atas menghitam semakin jadi.
“Kayak biasa Bang...” tukasnya pada Ken yang umurnya terpaut 10 tahun
darinya, cowok campuran Jepang-Indonesia yang bernama lengkap Masaaki Kenji itu
tersenyum mengangguk.
“Nih, arigatooo ne.” Tukasnya dengan membungkuk
sedikit pada Langit,padahal Ken itu lahir di Indonesia, tapi dia bangga sekali
punya darah Jepang di tubuhnya, itulah kenapa dia sangat suka membungkuk,
kebiasaan khasnya, ‘kebiasaan orang
Jepang kan emang gitu’ begitulah jawaban Kenji ketika Langit pertama kali
protes tentang bungkukannya, Langit yang tidak kehabisan jawaban menyergahnya
dengan bilang
‘Lah,
ini kan di Indonesia, peribahasanya di mana tanah di pijak, di situ langit di
junjung, if youre in Rome, do as a Roman!’. Kata Langit
dengan sok-sok an pake bhasa Inggris yang dia sendiri gak tahu itu bener atau
salah, dia ngomongnya aja pabeulit gitu hahaha Namun nampaknya Kenji sudah
kebiasaan dan gak mengindahkan perkataan Langit, Langit sendiri sih jadi
terbiasa sama kebiasaan Kenji itu, ‘yah
terserah dia ajalah, punggung-punggung dia’
Langit memang
sudah keranjingan kue di toko itu, jadi kurang pas kalau sehari saja ia tidak
makan kue kacang merah itu, toko itu sendiri sudah berdiri di sana sejak Langit
pindah ke kota ini, dan Ken sendiri adalah generasi ke-2, melanjutkan usaha
ayahnya yang keturunan Jepang tulen. Langit jadi inget, dia ketemu Raka di Toko
ini juga, temen pertamanya di kota ini, yang ia kenal karena berebut kue kacang
merah terakhir, waktu itu kuenya tersisa dua dan mereka berdua keukeuh pengen
beli dua, gak mau berbagi gitu, rumah Raka sendiri gak jauh toko ini,cukup
jalan 7 menit juga sampe.
“DO ITA SHI MAS SHIIITAAAAAA...” Pekik Langit
membuat Ken menjitak kepalanya.
“Aduh, sakit Om... gue bilangin emak gue luh!” Canda
Langit seraya nyengir kuda.
“Lebay tau, pake mangap-mangap segala, kayak kuda
nil!” Langit memincingkan mata, sudah dua orang yang memanggilnya kuda nil hari
ini, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apakah iya dia segitu sukanya
mangap-mangap tidak jelas? Langit menggeleng tidak setuju, seingatnya tidak
begitu ah, dia tidak percaya, toh ibunya selalu bilang kalau Langit itu ganteng
mau di bagaimana kan pun, kata ibunya catat itu.
“Yehhh malah ngelamun lagi, udah mah mangap,
ngelamun pula... haduuuuh.” Lagi-lagi Langit memincingkan matanya, sialan! Kok
kata-kata mereka sama gitu ya? pikir langit mengingat kesamaan Raka dan Ken.
“Biarin mangap tetep ganteng kan?” Langit mencolek
dagu Ken dengan genit, Ken jadi geli sendiri.
“Ampun nih bocah kesambet jin taman lawang kali ya?
perasaan si Raka kagak gini-gini amat...” Ken bergidik membayangkan yang
tidak-tidak, Kenji memang salah seorang keturunan jepang yang mempercayai
hal-hal seperti itu, entah mungkin karena ia terlalu banyak menonton anime,
mungkin.
Langit terkikik, “Sini godain ekyeee dongg...” kata
Langit lagi membuat Ken menjauh.
“Songong nih bocah,” Ken terkikik geli.
“Eh Bang, lu punya kenalan cewek sepantaran gue
kagak? Jepang juga kayaknya... sipit sih matanya.” Langit mengamati Ken dengan
serius, berusaha untuk membuat suasana jadi tegang, di pincingkan matanya
setajam mata elang.
“Banyak, kenapa emangnya?”
“Pedofil anjeeeer... hahahaha”
“Kamvret.” Kenji yang tadinya berusaha untuk serius
malah makin gereget dengan kelakuan bocah SMA itu
“Gak! serius, tuh ada cewek pake gaun pink selutut
lagi liatin elu di luar, ada tahi lalat di ujung mata kirinya.” Mata Ken
membulat, dia tahu benar sosok itu...
“Elu....” Langit menaikkan alisnya dan tersenyum
miris.
“Iya, gue apa?”
“Elu ngarangnya bisa banget, sialan hahaha.” Ken tahu benar, sosok itu... tidak pernah ada,
dasar bocah kampret!
“Yaelah karangan gue meleset padahal tadinya gue mau
bikin elu GE ER Jones kan paling gampang di bikin baper, Eh Bang udah nonton
AOT belom?”
“Kurang ajar nih bocah, ngatain gue lagi! AOT? Apaan
tuh? ALOT maksud lu? Film nya Mbah Jambrong? Hahaha”
“Yeee ngarang lagi, Attack On Titan, anjaay gitu aja
masa gak tahu”
“Lah penting gitu? Lagian juga ngapain di
singkat-singkat, udah kayak gelar aja.”
“Biar gak melilit lidah gue ngomongnya.”
“Kebanyakan makan tali sih lu, Tong.”
“Wah, kue lu pake tali, Bang?”
“Iyeee, tali pocong perawan, enak ye?” Canda Kenji
sambil melotot menatap Langit yang sedang berpikir.
“Kirain tali kutang elu Bang hahaha” dan rupanya
bocah ini gak kehabisan kata-kata untuk membalas Ken, selalu saja ada hal gak
bermutu yang membuat Ken menganga, seharusnya Kenji sudah biasa dengan hal itu,
tapi tetap saja, Langit memang bocah koplok yang berbeda, sedikit iri, Ken
berharap bisa sedikit koplak seperti itu, modal buatnya untuk bisa mendekati
cewek, tapi jangan sampai koploknya keterlaluan seperti Langit, bisa di sangka Freak dia nanti, ganteng dan freak itu adalah campuran yang gak
banget, menurut kamus Kneji sih begitu.
“Ngaco nih bocah, udah-udah sono pulang lu. Lu rese
kalo udah sore, di ajarin apa sih sama guru lu ampe otak lu kek gitu?”
“Gue harus jawab dulu apa gue harus pulang dulu
nih?”Langit nyengir kuda
“Bikin gue darting aja, mangkat lu sono...”
“Lagian di suruh pulang tapi malah nanya-nanya, kepo
ya? cieee yang care sama gue”
“Yeee nih bocah malah caprak aja, sono dah...”
Langit tertawa terbahak, lantas berjalan keluar.
“Bang, lu imut deh kalo lagi marah, bikin gue pengen
ngegigit...” ucap Langit sebelum meninggalkan tempat itu, Ken hanya
geleng-geleng kepala, bocah itu selalu sukses bikin ia merinding.
“Geli oi!!” Ken berteriak
Tak ada balasan dari Langit, bocah itu telah
mengayuh kembali sepedanya, “Gue aja geli yang ngomongnya, apa lagi elu hahaha...”
sindirnya dalam hati.
Dengan kecepatan full
Langit mengayuh sepedanya namun hujan malah mengguyurnya tanpa ampun, Langit
pasrah dan mengendurkan kayuhannya.
“kebanyakan ngorbrol sih jadi begini, beuhh dia kan
belom jawab pertanyaan gue....” Langit merutuki dirinya sendiri, kepalanya
berputar ke kanan dan menyadari sosok yang di kenalnya, di hentikan sepeda itu
dan ia memandang ke arah sosok yang sedang terdiam di bawah payung berwarna
kuning terang sambil menatap ke arah langit.
“Lah, dia malah disitu?” Langit yang basah kuyub
menuntun sepedanya dan berjalan perlahan mendekati sosok bergaun pink selutut
itu.
“Oit?!” pekik Langit membuat si sosok itu berputar
ke sang suara,
Langit
membungkukkan badannya untuk melihat sosok itu.
“Kok lu ada disini sih Bi?”
Langit
menatap perempuan itu dengan serius. Perempuan itu 5 tahun lebih tua darinya,
tapi dia masih terlihat muda, seumuran dengan Langit karena tingkahnya, Langit
memanggilnya Bibi, meskipun namanya adalah Hujan Khatulistiwa, tapi perempuan
itu terlihat tidak masalah, karena Bi dalam bahasa Korea juga berarti Hujan, sebagai
penggemar K-pop, Hujan malah senang di panggil seperti itu,awalnya Langit
merasa kalau nama itu unik dan aneh, Hujan sendiri menganggap bahwa nama Langit
terdengar sangat feminim, Langit Senja, kenapa pula orangtuanya menamai dia
begitu, dari nama lah mereka jadi akrab, meskipun mulanya terjadi karena
jemuran baju Hujan yang terbawa angin ke apartment sebelahnya, yang gak lain
adalah kamarnya Langit. Saat itu Langit mengembalikan kaos bergambar Ultraman
Mebius itu, entah bagaimana dia nyeletuk ‘suka
anime?’ cewe yang dikira semula seumuran dia itu menjawab ‘banget, dari kecil suka banget Doraemon’
dan Langit sukses di buat kikuk dengan jawaban itu, terlebih saat ia di ajak masuk
ke dalam apartment untuk ajang pamer koleksinya, ada sebuah ruangan, khusus
maenan, isinya itu ada meja gede berisi miniatur kereta api, lengkap sama rel,
stasiun, rumah-rumah kecil plus orang-orangnya, oiya di ruangan itu juga ada
patung Dart Vader setinggi 180 cm yang gak lain adalah tokoh dari film Star Wars, terus ada poster Anakin
Skywalker sama si Obi-Wan Kenobi yang menjadi karakter favoritenya si Hujan dan
langit-langit ruangan itu di pasang kayak rasi-rasi bintang gitu, selain itu
juga Hujan punya teropong bintang yang Super keren, sejak saat itu Langit suka
maen cuma buat nonton anime bareng, sejak saat itu juga Langit mengenal Hujan
secara perlahan, seperti umur mereka yang terpaut lima tahun atau hal-hal
sepele seperti Hujan yang suka banget makan apel sama jeruk, kulkasnya gak
pernah kehabisan buah itu. Namun, masih menjadi misteri kenapa ia menetap di
Indonesia, tanpa orang tua, karena Langit baru-baru ini mengetahui kalau orang
tuanya di Inggris.
“Ujan...
indah banget ya...”
“Apaannya yang indah? Cuma aer doang.” Protes Langit
tersadar dengan lamunannya tentang Hujan
Perempuan itu menatap Langit dengan sinis.
“Bocah kagak bakalan ngerti deh...” bibirnya manyun
tanpa sadar, Langit menatapnya tanpa berpaling, sinar mata bocah laki-laki itu
berkilat.
“Ya jelasin dong biar ngerti...”
“Au ah, capek ngejelasin sama kamu mah, bebel....
yang ada malah cengengesan nantinya.”
Hujan menatap Langit dengan sarkatis. Dia manyun
lagi.
“Lagian ngapain juga elu ujan-ujanan, kayak bocah
beneran deh...” lanjut perempuan itu menatap Langit dari atas sampai bawah,
badannya basah semua.
“Pake payung juga gak mempan keles, orang ujan
campur angin gini, udah pasrah aja...”
Hujan tersenyum, Langit benar, buktinya bajunya juga
basah.
“Udah sono pulang gih, nanti lu sakit gue yang
repot...”
“Lah, apa urusannya sama elo ho?”
“Tadi emak lu nitip elu ke gue, katanya dia ada
proyek ke luar kota, seminggu-an lah paling sebentar.”
Langit melongo, gak salah denger tuh, seminggu
paling sebentar? Langit menatap Hujan yang kini memandangi langit lagi,
tangannya terulur keluar payung agar rintik itu menghujam tangannya tanpa
ampun, Hujan tersenyum sekilas, membalik tangannya dan menjentik-jentikkan
tangannya di udara seperti sedang bermain piano, dia bergumam kecil, seperti
bernyanyi tanpa lirik, hanya nada-nada yang tak di mengerti oleh Langit, tapi
yang pasti bocah laki-laki itu tahu kalau gumaman Hujan bukan sountracknya
Mario Bros, itu yang paling penting!
“Cantik...” lirih Langit membuat Hujan bebalik
menatap bocah itu.
“Apaan yang cantik?” tanya Hujan penuh penasaran,
Langit menggaruk kepalanya yang gak gatel.
“Hujan...” kata Langit dengan tatapan dalam pada
Hujan, entah Hujan yang mana yang menurut nya cantik.
“Lucu, baru denger gue ada yang bilang Hujan itu
cantik” Hujan tersenyum mengejek, sebelum perempuan itu menyadari ucapannya,
dia mencerna makna kalimat itu dengan seksama, Langit hanya terdiam membiarkan
perempuan itu mengartikan kalimatnya, Langit lantas tersenyum sekilas menatap
Hujan yang tertunduk menatap sandal jepitnya yang tergenang air, mungkin
perempuan itu sudah mengerti kemana maksud kalimatnya berlabuh.
“Eh, minggu ini nyepeda nyok?” tukas Hujan untuk
mencairkan suasana.
“Hayooo...” jawab Langit, bete juga sih belajar
terus, yah kelas tiga namanya juga makanan sehari-harinya yah belajar-belajar
dan belajar, ngomong-ngomong belajar, dia ingat ada PR dari Pak Maman.
“Tapi ini bukan kencan! Inget lho!” Hujan berjalan
mendahului Langit, membuat bocah itu terkikik geli.
“Iya Bibiiiiiiii~ lagian juga siapa yang mau kencan sama
bibi-bibi” Langit tertawa, di balas dengan cipratan yang Hujan buat dengan menghentak genangan
air dengan kakinya, Langit gak mau kalah dia membalas Hujan, namun perempuan
itu kabur membuat Langit mati-matian mengejarnya.
“Dongo, kenapa juga gue narik-narik sepeda gini...
adeuuuh.” Menyadari kecerobohannya dan menyadari Hujan yang menghilang
meninggalkannya sementara ia ngos-ngosan karena harus menarik-narik sepeda
membuat Langit tersenyum, udah kayak bocah kalau di pikir-pikir.
“Apes! Buku sama kue gue basah gak yah?!” dia
menaiki sepeda dan mengayuhnya dengan kekuatan 120km per jam, kecerobohannya
yang lain, dia itu pelupa!
****
Review now


Komentar
Posting Komentar
Read and Review please...