Myosotis/ Opening
OPENING
![]() |
| Author: Amalia Marina; Picture: Myosotis (Forget me not) |
Dahulu kala, ketika awan bukan berwarna
biru... Tapi jingga, merona entah karena apa, jalanan yang senyap, air sungai
yang berbau bunga mawar, angin yang mendesis menyanyikan elegi, dan semua orang
terlelap setelah jamuan yang di berikan kerajaan, bukan jamuan biasa
tentunya... Tapi, jamuan yang sudah dibubuhi oleh mantera. Maka, jadilah
seluruh wilayah itu seperti kota mati. Tak ada raga dan asa yang hidup di
sekitarnya.
Kabut menyelimuti kerajaan, dan tanaman
berduri tumbuh menjulang melindungi bangunan-bangunannya, di kamar yang dingin,
dengan redup lampu minyak yang tak pernah padam selama hampir lima puluh tahun,
tertidur panjang seorang puteri, rambutnya hitam menjuntai sampai ke bawah
ranjang, bibirnya merona seperti buah apel, wajahnya putih seputih salju,
cantik... Terlebih dengan gaun putih yang dikenakannya. Namun, tak ada yang
bisa membangunkan dirinya kecuali sebuah ciuman dari cinta sejati.
Maka, datanglah seluruh pangeran dari setiap
kerajaan, menantang peri jahat yang mengutuk sang puteri, mereka datang penuh
ego, yakin bahwa merekalah yang terkuat, yang paling berani yang bakal
mengalahkan peri jahat, kebanyakan begitu... Mereka datang bukan untuk sang
puteri, tapi untuk gelar bahwa mereka lah sang 'juara' .
Lima
puluh tahun berlalu... Dan belum ada yang bisa mematahkan kutukannya.
Sampai seorang pangeran dari seberang
samudera datang, rasa penasarannya bukan pada peri jahat yang di sebut-sebut
peri paling kuat sejagat raya, rasa penasarannya tertuju pada kerajaan, ada apa
di dalamnya? Pasti ada sesuatu yang begitu berharga hingga peri terkuat
melindunginya.
Maka, di dorong keingintahuan itu, pangeran
dari seberang lautan itu menerjang pepohonan berduri, membunuh iblis-iblis yang
diciptakan peri jahat untuk menghadangnya, dan bertarung melawan naga berkulit
emas, perjuangan yang sungguh mematikan. Tak mengapa, toh pangeran itu berhasil
melewati semuanya.
Dan dibukalah pintu kamar sang puteri,
dengan langkah terseok pangeran berjalan masuk, ditemani sinar lampu minyak
yang temaram.
Maka kagetlah dia ketika menemukan sang
puteri, gadis yang sama yang sering hadir di mimpinya, gadis khayalannya, gadis
bunga mawar yang tersenyum dan membuatnya jatuh cinta. Gadis ini... gadis yang ia yakini sebagai takdirnya.
Lalu, tiba-tiba angin mendesis parau,
'Hanya ciuman dari cinta sejati yang bisa
membangunkannya, Dan Hanya kematian yang dia miliki kalau cinta itu mencium
yang salah.'
Pangeran itu tak bergeming, tak memikirkan
matang-matang peringatannya, maka dilupakannya bahwa peri jahat masih mengawasi
dirinya , di ciumnya puteri tidur, halus ciuman itu seperti bulu dandelion.
Dan benar saja, puteri itu terbangun,
mengerjapkan mata lalu tersenyum parau
"Well, sayangnya kau salah orang, anak muda"
Berubahlah
Sang puteri menjadi peri jahat yang tertawa penuh kemenangan, sementara
pangeran terlihat pucat pasi ketika melihat tubuh gadisnya terbang di bawa
angin ke angkasa. Dia berlari.
"Tidak... Tidak... Takdir kita bahkan
belum di mulai" Pangeran mencoba menggapai tubuh puteri, namun sayang...
Gadisnya itu terlanjur melebur menjadi kepingan cahaya yang di makan malam,
maka mantera hitam itu lenyap, semua kembali seperti biasanya, tak ada tanaman
berduri yang melindungi kerajaan, tak ada aroma mawar di air sungai dan semua
orang kini terbangun dari tidurnya, mantera itu benar-benar lenyap... Seperti
puteri tidur yang juga ikut lenyap untuk selamanya.
"Akan ku berikan apapun... Apapun agar
takdir itu bisa di kembalikan... Apapun itu." Pangeran berguman pelan
membuat Peri jahat tertawa
'Cinta adalah kebodohan
yang pernah dimiliki oleh manusia' dan muncullah ide baru, sebuah ide yang terbuat dari skenario
terkejam yang pernah dipikirkan oleh peri jahat.
"Akan ku kabulkan..." Peri jahat
tersenyum sinis,
"Maka... Sebagai bayarannya, kau akan
kehilangan semua ingatanmu tentang dirinya."
Pangeran menatap peri jahat. 'Kalau
benar kita di takdirkan bersama, kenangan itu pasti kembali...'
Dan dibuatlah perjanjian terkutuk itu,
lagi-lagi pangeran melupakan peringatannya. Dan lagi-lagi peri jahat tertawa
penuh kemenangan.
'Ingatan sangatlah rapuh, seperti cinta,
maka ketika keduanya tak bisa bekerja sama... Ingatan dan cinta, bisa jadi
luka'
Dimulailah petualangan itu, dimana Pangeran
masuk kedimensi lain, ke waktu lain, ke jaman lain, ke sisi kehidupan yang
lain, berharap... 'Bukankah takdir tak pernah ingkar?' begitu pikirnya.
Dia tak pernah tahu, bahwa ingatan bisa saja mengingkari hatinya.
ToBeContinued
Review now


Komentar
Posting Komentar
Read and Review please...